Indonesia Gagal Lagi

29 Jun 2010

Event Djarum Indonesia Super Series telah usai, kemeriahannya pun telah berangsur lenyap dengan cepat. Yang tersisa hanya sebuah rasa kekecewaan karena pemain bulutangkis kebanggaan tanah air gagal menyumbang gelar pada event yang diselenggarakan dikandang sendiri, Indonesia.

Kekecewaan yang paling terasa adalah ketika salah satu putra terbaik negeri gagal menumbangkan pemain tunggal Malaysia yang merupakan unggulan pertama pada event kali ini, Lee Chong Wei. Taufik menyerah dalam pertarungan dua game, 19-21 dan 8- 21. Ini amat disesalkan karena hanya Taufik-lah andalan Indonesia untuk menyabet gelar diajang Super Series kali ini karena pada partai lain Indonesia gagal menyematkan pemainnya di partai final. Di game pertama Taufik mampu meladeni permainan Lee Chong Wei dengan jurus andalannya, backhand smash dan netting yang akurat. Namun kehebatan Chong Wei tak terbendung dan menang tipis 21-19. Namun memasuki game kedua stamina Taufik mulai kedodoran yang akibatnya perolehan poin Lee Chong Wei tak mampu dia kejar. Lee Chong Wei menang telak 21-8.

Sama halnya dengan Taufik, nasib ganda campuran ini pun tak berbeda jauh. Mereka harus mengalah dari ganda campuran dari Polandia yang merupakan unggulan kelima, Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba. Hendra/Anastasia harus mengakui keunggulan ganda Polandia tersebut lewat pertarungan dua game langsung 18-21 dan 20-22. 1734123p

Pada event kali ini Indonesia hanya mampu mengisi partai final lewat Taufik Hidayat dan ganda campuran yang baru, Hendra Setiawan (INA)/Anastasia Ruskkikh dari Rusia yang tampil hebat dengan melaju ke laga final ganda campuran. Namun yang patut untuk dipertanyakan adalah, apakah dunia perbulutangkisan Indonesia tengah mengalami paceklik? Mengapa pemain Indonesia malah melorot disaat negara lain melaju pesat? Apakah nama besar dan kejayaan yang dulu susah payah dibangun harus runtuh?

Namun dibalik stigma-stigma ini kita harus tetap yakin bahwa dunia bulutangkis di Indonesia masih akan terus mengudara dengan hadirnya regenerasi-regenerasi yang mumpuni yang mampu mengembalikan citra Indonesia di muka dunia. Dari ajang Djarum Indonesia Super Series kemarin muncul sebuah harapan Indonesia pada tunggal putri. Ana Rovita pemain muda yang merupakan salah satu wakil dari Djarum Kudus mampu melaju ke semifinal setelah menumbangkan seniornya, Maria Kristin Yulianti dua game langsung 21-19 dan 21-14. Hanya 43 menit saja waktu yang dibutuhkan Ana untuk mengalahkan pemain Pelatnas tersebut yang bermain kurang maksimal. Namun dewi fortuna belum memihak pada Ana, karena pada babak semifinal Ana harus menerima kekalahan dari pemain Jepang Sayaka Sato straight set, 20-22 17-21. Stamina kalah jauh dari Sato, walaupun Ana mampu memimpin diawal game tapi setelah itu Ana kedodoran dan kalah.

Dari hasil ini kita harus tetap yakin bahwa akan lahir pahlawan-pahlawan tanah air seperti Susi Susanti, Rudi Hartono, Alan Budi Kusuma dan sang maestro Liem Swie King yang berhasil mengharumkan nama bangsa di kancah dunia. Semoga saja bibit-bibit seperti Ana Rovita, Linda Weni Fanetri, Andre Kurniawan Tedjono, Alamsyah Yunus, Aprilia Yuswandari, dan Rosaria Yusfin Pungkasari mampu mengulang kejayaan Indonesia dulu yang amat sangat dirindukan. Semoga saja…


TAGS Taufik Hidayat Lee Chong Wei Badminton Bulutangkis Ana Rovita Hendra Setiawan Final tunggal putra DIOSS Final Djarum Indonesia Open Super Series Bulutangkis Indonesia


-

Author

Follow Me